Minggu, 27 Agustus 2017

Hadi Shubhan: Tularkan Pengalaman Ikut PIMNAS kepada Adik Kelas

Seluruh dari 420 judul Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dipresentasikan di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) Ke-30 tahun 2017, selesai dilakukan penjurian/penilaian, Jumat (25/8) petang. Penjurian itu dilaksanakan di berbagai fakultas di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Setelah itu dewan juri melakukan sidang dan hasilnya akan diumumkan Sabtu (26/8) malam sebelum PIMNAS Ke-30 resmi ditutup.
Sebagaimana dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya seusai penjurian PIMNAS, Tim Universitas Airlangga mengadakan pertemuan antara mahasiswa peserta, pendamping, dosen pembimbing, dan pembina kemahasiswaan. Tujuannya untuk melakukan evaluasi sebagai bahan pembelajaran pada persiapan PKM dan pelaksanaan PIMNAS tahun berikutnya.
Pertemuan itu dilaksanakan di meeting room Hotel Fave, Makassar, tempat menginap selama ambil bagian di PIMNAS. Acara digelar secara santai, bercanda sambil makan malam. Pengendali acara, Dr. Bambang Purwanto, dr., MS., meminta kepada masing-masing perwakilan PKM untuk mengisahkan apapun yang dialami dan dilakukan selama kepesertaan PIMNAS 2017. Bahkan jika ada kritikan pun hendaknya disampaikan baik kepada pembina dan panitia.
Dalam kesempatan inilah Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Shubhan, SH., MH., CN., berharap kepada mahasiswa UNAIR peserta PIMNAS 2017 ini untuk menyebarkan dan menularkan “virus-virus” positif PIMNAS ini kepada kawannya yang masih punya kesempatan dan belum berhasil lolos, dan terutama kepada adik-adik kelas dan ikut memotivasi.
”Beritahu, sebarkan, dan ajarkan kepada adik-adik kelas Anda tentang bagaimana membuat proposal PKM, berlatih presentasi, membuat paparan presentasi, liku-liku dan kejadian saat presentasi, penilaian juri dan sebagainya. Tularkan pengalaman baik ini, baik yang belum berhasil meraih juara, dan apalagi yang sudah meraih hasil terbaik,” kata Pak Hadi, panggilan akrab Dirmawa UNAIR itu.
Diwejangkan juga, bahwa apapun yang sudah dijalani sejak persiapan di Surabaya hingga penjurian dua hari di arena PIMNAS, hendaknya selalu disyukuri, dijadikan pengalaman yang baik bahwa tampil di ajang kompetisi ilmiah tingkat nasional merupakan prestasi yang berharga. Apalagi kompetitornya juga tidak sembarangan, dari perguruan tinggi hebat-hebat. Ada UGM, UB, ITS, ITB, UI, dsb.
”Berdoalah saja, bertahajut, memohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk dan hasil yang terbaik. InsyaAllah hasil yang diberikan Allah akan sepadan dengan jerih payah dan ikhtiar yang sudah kita lakukan,” demikian pesan Pak Hadi.
Hal senada juga disampaikan Dr. Bambang Purwanto bahwa semua peserta hendaknya bisa menjaga perilaku yang baik, tidak berkata yang tidak seharusnya dikatakan, mencela dan menghina orang lain, apalagi bersombong diri. Intinya hendaknya berperilaku positif. Dipesankan juga untuk tidak lupa berdoa, memohon kepada Yang Maha Bijak untuk diberikan prestasi yang terbaik.
”Dari curhatan dan komentar semua peserta dan pembimbing, malam ini beritanya baik dan positif semua. Mudah-mudahan ini akan membawa hasil sepadan seperti yang hita harapkan,” demikian Bambang, staf pengajar Fakultas Kedokteran UNAIR itu. 
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/08/25/hadi-shubhan-tularkan-pengalaman-ikut-pimnas-kepada-adik-kelas/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
1.      Fakutas Kedokteran
3.      Fakultas Hukum
6.      Fakultas Vokasi
8.      Fakultas Keperawatan
9.      Fakultas Farmasi
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/

PKM Mahasiswa UNAIR Peraih Medali di Arena PIMNAS Ke-30 Makassar

Dari sebelas tim PKM Universitas Airlangga yang tampil pada final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) Ke-30, di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Tim “Biru Kuning” ini berhasil meraih total medali, baik presentasi dan poster: 2 emas, 5 perak, 1 perunggu atau komposisi 2-5-1.
Rinciannya, pada presentasi sebagai lomba utama dalam PIMNAS, mahasiswa UNAIR meraih dua medali emas dan tiga keping medali perak. Dua emas tersebut dipersembahkan tim PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM) kelas-3. Judul PKM-nya “BILQIS (Bio Liquid Smoke): Pemanfaatan Asap Cair Dari Kulit Siwalan Sebagai Pengawet Ikan Dalam Upaya Menciptakan Peluang Usaha Baru Masyarakat Dusun Ngareng, Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban”.
Kelompok PKM dari mahasiswa Fakultas Keperawatan UNAIR tersebut diketuai oleh Ika Zulkafika Mahmudah, dengan empar kawan anggotanya Tutut Dwi Cahyati, Teguh Dwi Saputro, Inas Pramitha Abdini Haq, dan Sutra Mahardika.
Satu medali emas lagi dihadirkan oleh Ayu Tarantika Indreswari, Vita Fitria, Galuh Damar, Nurul Azizah, dan Beatrice, mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR. Mereka presentasi di PKM Penelitian Eksakta (PKMPE) kelas-4, mengusung judul ”Pengembangan Reservoir Patch Transderma Dexorubicin dengan Pembawa Polyvinil Alcohol dan Ethil Cellulose Sebagai Solusi Kemoterapi Kanker Payudara yang Mutakhir dan Nyaman”. Selain medali emas presentasi, poster PKM ini juga meraih medali perunggu (juara III).
Sedangkan kepingan medali perak presentasi, antara lain lahir dari PKM-GT (Gagasan Tertulis) yang berjudul ”SLIMME HUIS: Konsep Pemukiman Kota Masa Depan Berbasis Sustainable Energy sebagai Upaya Penanggulangan Krisis Energi Menuju Target SDGs 2030”. Tim ini diketuai Hatif Indra Nur Septiyanti. Selain perak presentasi, karya poster PKM “Slimme huis” ini juga meraiah medali perak (juara II).
Medali perak presentasi kedua lahir dari kelas 3 PKM-PE. Abdullah Hasib (FKH 2013). Risaldi Muhammad (FKH 2014), Talita Yuanda Reksa (FKH 2014), dan Alvina Ulimaz A (FKH 2015) mempresentasikan PKM berjudul ”Pemanfaatan Madu Lebah Hutan Tropis Sumbawa (Apis Dorsata) Terhadap Peningkatan Fertilitas Telur Burung Endemik Indonesia Kacer Hitam (Copshycus Saularis) Sebagai Upaya Peningkatan Populasi Satwa”. PKM itu dibawah bimbingan Dr. Erma Safitri, drh., M.S, dosennya di FKH UNAIR.
Satu medali perak presentasi lagi dari PKM-PE kelas-5, dengan judul PKM “Studi In Vivo Vascular Graft Hollow Fiber PLLA Coating Kitosan Kolagen Solusi Penyakit Kardiovaskular Akibat Atherosklerosis.”
Karya ilmiah tersebut disusun oleh lima mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR yaitu Iffa Aulia Fiqrianti (ketua tim), Claudia Yolanda Savira, Muhammad Abdul Manaf, Fitria Renata Bella, dan Nadia Rifqi Cahyani, dibawah bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti drg., M.Kes.
”Secara fair saya mensyukuri sekali medali perak ini, dan saya akui bahwa baik makalah dan presentasi yang meraih emas (mahasiswa Undip di kelas-5 PKMPE – red) memang lebih baik. Mereka kelihatan sakali kalau sangat memahami mengenai topik yang disampaikan,” kata Muhammad Abdul Manaf, usai penutupan PIMNAS kepada unair.news.
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/08/27/pkm-mahasiswa-unair-peraih-medali-di-arena-pimnas-ke-30-makassar/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
1.      Fakutas Kedokteran
3.      Fakultas Hukum
6.      Fakultas Vokasi
8.      Fakultas Keperawatan
9.      Fakultas Farmasi
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/

Jumat, 18 Agustus 2017

Langganan ’Cumlaude’, Cristabella Wisudawan Terbaik S3 FH UNAIR

Reifon Cristabella Eventia, SH., M.H., tidak pernah setengah-setengah dalam menjalani pendidikan. Selama kuliah S-1 hingga S-3, perempuan yang akrab disapa Cristabella ini selalu lulus dengan predikat cumlaude. Ia lulus S-3 FH UNAIR dengan IPK sebesar 3.81.
Berbagai prestasi pernah ditorehkan Cristabella, salah satunya yakni keikutsertaannya dalam Sandwich Programme Leiden Law School pada tahun 2014 dibawah bimbingan Prof. Jan M. Helby. Ia tercatat sebagai satu-satunya praktisi di UNAIR yang mengikuti program tersebut.
Perempuan kelahiran Kota Malang, 12 Maret 1989 ini membuat disertasi dengan judul “Prinsip Hukum Dalam Pembentukan dan Pelaksanaan Kontrak Bangun Guna Serah (Build, Operate, and Transfer/BOT)”. Disertasi tersebut membahas dua topik penting. Pertama, prinsip hukum dalam pembentukan kontrak BOT terutama prinsip transparansi dan prinsip kemitraan. Kedua, prinsip hukum dalam pelaksanaan kontrak BOT yang meliputi prinsip pengendalian dan pengelolaan risiko.
“Dewasa ini di Indonesia, masalah kontrak BOT begitu diminati dalam rangka pembangunan infrastruktur. Tetapi sampai saat ini belum ada Undang-undang khusus yang mengaturnya,” tuturnya.
Selama menempuh studi Doktoral, Cristabella berusaha membagi waktu dengan baik antara kuliah dan kerja. Sejak 2014, ia berprofesi sebagai advokat di Law Firm Sutrisno, SH, M.Hum and Associates. Sebelumnya, ia sempat menjadi advokat magang selama tiga tahun di sana.
“Saat menyelesaikan studi S-3 dulu, selain sempat kesulitan membagi waktu, saya juga perlu usaha lebih untuk mendapatkan literature terkait dengan topik penelitian saya, mengingat sangat minimnya literature yang ada di Indonesia. Saya bersyukur karena saya dapat menemukan banyak literature saat berada di Leiden University,” kata alumni SMAN 1 Palangkaraya itu.
Meski memiliki banyak kesibukan, Cristabella tetap aktif mengikuti pendidikan non-formal untuk menunjang karirnya. Tidak kurang dari 16 pendidikan non-formal pernah diikutinya.
Selain menjalani kesibukan sebagai advokat, Cristabella harus rela pulang pergi Kalimantan-Surabaya untuk menjalani bisnis keluarga. Ia juga berencana membuka Law Firm sendiri dan menerima tawaran menjadi dosen pada salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya.
“S-3 adalah jenjang pendidikan tertinggi, maka begitu banyak suka-duka yang harus dilewati, sehingga harus dijalani dengan kesungguhan, kerja keras, dan pantang menyerah,” kata penerima penghargaan dari Panglima Kodam V/Brawijaya sebagai wisudawan terbaik Universitas Merdeka Malang ini.
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/03/20/langganan-cumlaude-cristabella-wisudawan-terbaik-s3-fh-unair/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
  1. Fakutas Kedokteran
  2. Fakultas Kedokteran Gigi 
  3. Fakultas Hukum
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
  5. Fakultas Ilmu dan Budaya
  6. Fakultas Vokasi
  7. Fakultas Sains dan Teknologi
  8. Fakultas Keperawatan
  9. Fakultas Farmasi
  10. Fakultas Perikanan dan Kelautan
  11. Fakultas Kedokteran Hewan
  12. Fakultas Psikologi
  13. Fakultas Kesehatan Masyarakat
  14. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
  15. Fakultas Pasca Sarjana
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/

Senam Zumba Ramaikan Pembukaan Dekan Cup FK

Ada yang berbeda dari kegiatan senam Airlangga kali ini. Senam yang diadakan Minggu (19/3) bertepatan dengan pembukaan Dekan Cup Fakultas Kedokteran diramaikan dengan senam zumba. Senam yang berlangsung di depan Gedung Rektorat Kampus C UNAIR diramaikan dengan adanya booth makanan, panggung pentas, dan fasilitas cek kesehatan.
Peserta senam kali ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar Kampus C, dosen dari berbagai fakultas, mahasiswa, dan segenap sivitas akademika UNAIR. Turut hadir Prof. Dr. Med. Dr. Puruhito Sp.B Rektor UNAIR tahun 2001-2006, Rektor UNAIR Prof. Mohammad Nasih., Mt., Ak., CMA, dan beberapa pimpinan fakultas, unit, badan, dan lembaga di lingkungan UNAIR.
Suasana berlangsung meriah karena instruktur senam dan crew yang bertugas mampu membawa suasanan pagi menjadi lebih bugar. Kekompakan instruktur pun mendapat respon semangat dari para peserta senam.
Di akhir senam, seluruh peserta disuguhkan dengan senam zumba, salah satu olahraga yang dikembangkan oleh Jun Ko Agus, perintis Zumba Dance di Indonesia. Olahraga ini terdiri dari 30% gerakan fitness dan 70% gerakan dansa. Senam zumba memiliki manfaat tinggi, yaitu mampu membakar 600 hingga 1000 kalori/jam.
Usai senam, Prof. Dr. dr. Soetojo, Sp.U, Dekan FK UNAIR secara resmi membuka kegiatan Dekan Cup FK UNAIR. “Pagi ini kita telah melakukan senam bersama. Senam bersama dalam rangka pembukaan Dekan Cup FK UNAIR,” ujar Prof Soetojo.
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/03/20/senam-zumba-ramaikan-pembukaan-dekan-cup-fk/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
  1. Fakutas Kedokteran
  2. Fakultas Kedokteran Gigi 
  3. Fakultas Hukum
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
  5. Fakultas Ilmu dan Budaya
  6. Fakultas Vokasi
  7. Fakultas Sains dan Teknologi
  8. Fakultas Keperawatan
  9. Fakultas Farmasi
  10. Fakultas Perikanan dan Kelautan
  11. Fakultas Kedokteran Hewan
  12. Fakultas Psikologi
  13. Fakultas Kesehatan Masyarakat
  14. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
  15. Fakultas Pasca Sarjana
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/

Senin, 14 Agustus 2017

Setelah Dokter Turun ke Jalan

PEMERINTAH melalui Kementerian Kesehatan dan Kemenristek Dikti telah membuka program studi Dokter Layanan Primer (DLP). Pemerintah berharap DLP ini dapat meningkatkan kemampuan dokter yang berada di layanan primer, sehingga mampu menekan angka rujukan ke rumah sakit, yang kemudian diharapkan berujung pada penekanan biaya pengobatan masyarakat.
Namun dalam perjalanannya, program DLP ini mendapat pertentangan dari berbagai pihak, utamanya para dokter yang menjadi subyek dari kebijakan pemerintah. Di mata Ikatan Dokter Indonesia (IDI), DLP ini ibarat menutup asap tanpa mematikan api. Hasilnya akan sia-sia. Mengapa dikatakan sia-sia? Karena akar permasalah kesehatan di Indonesia bukan terletak pada kemampuan dokter semata, melainkan dari banyak faktor.
Ada keganjilan dalam UU No 20 Tahun 2013 karena memasukkan DLP sebagai spesialisasi baru di bidang kedokteran. Dalam UU tertulis program DLP merupakan kelanjutan dari program profesi dokter dan program internsip yang setara dengan program dokter spesialis. Disisi lain, UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyebutkan bahwa dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis. Kita tidak mengenal istilah DLP, jadi secara hukum, kewenangan dan area pekerjaan akan rawan tumpang tindih dengan profesi dokter yang sudah ada.
Keganjilan kedua, saat ini terdapat 114,602 dokter umum (data KKI, Oktober 2016), sedang yang boleh membuka sekolah DLP hanya Fakultas Kedokteran (FK) yang terakreditasi A, yang saat ini jumlahnya “hanya” 17 dari 75 FK yang ada di Indonesia (belum termasuk FK yang baru berdiri). Bisa diperhitungkan perlu waktu puluhan tahun untuk men-DLP-kan semua dokter umum yang akan bekerja di layanan primer. Itupun belum termasuk 8.000 dokter baru yang terus dihasilkan setiap tahunnya. Meskipun pemerintah menyatakan akan membiayai program DLP ini, hal itu sangat tidak efisien dan malah membebani negara.
AKAR MASALAH KESEHATAN
Masyarakat perlu tahu bahwa DLP bermula dari tuduhan pemerintah yang menyatakan bahwa tingginya angka rujukan ke rumah sakit disebabkan kompetensi dokter umum yang masih minim. Perlu dicatat bahwa kompetensi dokter memang salah satu faktor yang berperan dalam suatu rujukan, namun itu bukan hal utama yang dihadapi di Indonesia saat ini.
Menurut Hendrik L. Blum, Guru Besar Administrasi Kesehatan dari University Of California Berkeley, terdapat empat faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan manusia; yaitu kesehatan lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik.
Faktor Pertama, kesehatan lingkungan. Baru-baru ini DPR mendesak pemerintah untuk memperkuat infrastruktur air bersih. Berdasarkan penilaian BPPSPAM, kondisi PDAM yang sehat hanya 50% dari total PDAM yang ada. Sisanya masuk katagori kurang sehat dan sakit. Padahal 60-70% komposisi tubuh manusia adalah air. Kemudian masalah kesediaan pangan. Dalam laporan FAO (Food and Agriculture Organization/Organisasi Pangan Dunia) pada tahun 2015 ditemukan hampir 37% atau 7,6 juta balita di Indonesia mengalami stunting (kekerdilan) karena terhambat pertumbuhannya akibat kekurangan gizi.
Faktanya, Indonesia belum bisa menjadi negara swasembada pangan. Beras, kedelai, gula, dan daging saja kita masih impor. Ini sangat memprihatinkan para dokter. Untuk sekedar mendapatkan air bersih dan makanan yang sehat untuk kehidupan sehari-hari saja masih susah. Lantas dokterkah yang dipersalahkan ketika kondisi ini menyebabkan penyakit kronis yang berujung pada tingginya angka rujukan?
Faktor kedua, perilaku manusia. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan lengkap yang tanpa disertai perubahan perilaku manusia, akan sia-sia. Meningkatnya insiden penyakit metabolik seperti diabetes, stroke, dan penyakit jantung koroner disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat. Gaya hidup seperti makan makanan berlemak, merokok, minum alkohol, jarang berolahraga akan memicu penyakit metabolik kronis yang berujung pada rujukan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas terapi penyakit metabolik itu.
Faktor ketiga, pelayanan kesehatan. Setinggi apapun kompetensi dokter, tetap tidak akan bisa menangani penyakit yang jadi bidang keahliannya jika fasilitas dan obat tidak tersedia. Sudahkah kita melihat kondisi sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas atau fasilitas kesehatan layanan primer? Apakah alat kesehatan dan obat-obatan sudah tersedia lengkap sehingga dokter tidak perlu merujuk? Fakta menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan belum terdistribusinya dokter di Indonesia secara merata.  Masih banyak Puskesmas belum memiliki dokter. Kekosongan Puskesmas ini yang semestinya menjadi prioritas pemerintah. Dibandingkan menyekolahkan dokter umum untuk mengikuti DLP, alangkah baiknya pemerintah memfasilitasi dan menjamin agar kekosongan ini dapat teratasi.
Faktor keempat, faktor genetik. Faktor ini paling kecil perannya dibandingkan ketiga faktor lainnya. Namun bisa kita cermati lebih lanjut. Anak yang lahir dari orangtua penderita kanker memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker dibandingkan anak yang lahir dari orang tua bukan penderita kanker. Walau hal in dapat diminimalisasi dengan melakukan pola hidup sehat dan deteksi kanker secara dini. Semakin banyak penduduk memiliki penyakit bawaan akan semakin sulit pula upaya meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia.
SOLUSI SELAIN DLP
Pemerintah mengatakan, perbedaan dokter umum dan DLP adalah DLP memiliki kompetensi lebih dibandingkan dokter umum, karena nantinya DLP akan dibekali pendidikan tambahan berupa dokter keluarga dan kesehatan masyarakat. Hodgetss dan Cascio membagi dua pelayanan kesehatan, yaitu pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan perorangan, dimana pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh ahli kesehatan masyarakat dengan perhatian utama pada upaya memelihara kesehatan rakyat dan mencegah penyakit.
Lantas, mengapa kita tidak bekerjasama dengan teman-teman dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) untuk memperkuat layanan primer? Untuk apa pemerintah membuka FKM jika para tenaga kesehatan tidak bersatu memperkuat layanan primer? Dokter dan ahli kesehatan masyarakat serta tenaga kesehatan lain dapat bahu-membahu meningkatkan derajat kesehatan masyarat di level primer.
Memperkuat kompetensi dokter di layanan primer adalah keharusan. Pemerintah perlu melihat masalah ini dari hulu hingga hilir. FK sebagai “pabrik” dokter umum ini kondisinya masih belum merata. Hanya 22,6% FK yang terakreditasi A. Sisanya masih B dan C (KKI dan BAN PT 2016). Bukannya malah berupaya meningkatkan kualitas FK yang ada, Kemenristek Dikti malah membuka moratorium dan mendirikan delapan FK baru tahun ini. Pemerintah perlu berkomitmen untuk lebih serius dalam meningkatkan kualitas, bukannya malah fokus pada kuantitas dalam pengembangan pendidikan kedokteran. Fakultas Kedokteran yang baik tentu akan menghasilkan dokter yang baik dan kompeten pula.
IDI membawa usulan lebih realistis. Indonesia ini luas dan sangat beragam, hingga kebutuhan kompetensi dokter juga belum “seragam”. Misalnya DLP yang bekerja di daerah industri membutuhkan keterampilan berbeda dengan yang bekerja di daerah pesisir/pedalaman. Akan lebih realistis bila peningkatan kompetensi dokter yang bekerja di layanan primer menimba keterampilan dengan sistem “shopping” di Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian  Berkelanjutan (P2KB) sesuai kebutuhannya. Disini, jelas penguatan P2KB lebih realistis.
Semua solusi sudah tersedia, tinggal menunggu komitmen pemerintah. Ada pepatah yang mengatakan: “Di setengah kehidupan kita mengorbankan kesehatan untuk mendapatkan uang. Di setengah lainnya kita mengorbankan uang untuk mendapatkan kembali kesehatan.” Tentu pembangunan infrastruktur itu penting, tetapi jangan lupa untuk juga membangun manusianya.

Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
  1. Fakutas Kedokteran
  2. Fakultas Kedokteran Gigi 
  3. Fakultas Hukum
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
  5. Fakultas Ilmu dan Budaya
  6. Fakultas Vokasi
  7. Fakultas Sains dan Teknologi
  8. Fakultas Keperawatan
  9. Fakultas Farmasi
  10. Fakultas Perikanan dan Kelautan
  11. Fakultas Kedokteran Hewan
  12. Fakultas Psikologi
  13. Fakultas Kesehatan Masyarakat
  14. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
  15. Fakultas Pasca Sarjana
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/

Rabu, 02 Agustus 2017

Meningkatkan Pola Hidup Sehat Penghuni Panti Asuhan ‘Millenium’ Sidoarjo

Kebersihan lingkungan dan kesehatan di panti asuhan (PA) masih banyak yang diabaikan dan tidak memenuhi syarat kesehatan pada umumnya. Berangkat dari realitas itulah mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) ingin berbuat membantu pemberdayaan pola hidup sehat pada panti asuhan. Pengabdian mereka itu dilaksanakan di PA Milenium, di Desa Tenggulunan, Kec. Candi, kab. Sidoarjo.
Empat mahasiswa FISIP UNAIR penggiat pengabdian itu diketuai Sofie Egita Vermalia, dengan anggota Sri Ayu Dinda Lestari, Lestari Dyah Ningtyas, dan Weka Nastiti.
Dijelaskan oleh Sofie, PA Milenium selama ini menampung anak-anak yatim piatu, anak terlantar, serta dhuafa. Dari segi bangunan panti yang unik paduan arsitektur Bali dan Islam ini, sayangnya tentang kebersihan dan kesehatan masih kurang maksimal.
Seperti yang diterangkan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Effendie, Panti Asuhan Milenium diakui belum bisa membuat program mengarah kesana, karena kurang adanya sosialisasi terhadap pola hidup sehat yang sesuai syarat pada umunya. Karena itulah dengan kehadiran mahasiswa UNAIR ini diharapkan bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih sehat.
Kegiatan Sofie Dkk ini kemudian disusun menjado proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul “KAPAL ( Kesehatan Anak Panti Asuhan Milenium) Guna Meningkatkan Pentingnya Hidup Sehat”. Konsep ini diharapkan dapat dijadikan program lanjutan oleh pihak PA Milenium di Sidoarjo ini.
Dibawah bimbingan seorang dosennya, proposal “KAPAL” ini juga lolos penilaian Dikti, sehingga juga berhak untuk mendapatkan dana hibah pengembangan dari program PKM 2016-2017 dari Kemenristekdikti.
Sofie Dkk berharap dengan kegiatannya ini dapat meniadakan persoalan yang telah “viral” terjadi di PA ini bahwa pihak panti beberapa kali mendapat berita buruk dengan pengasuhan yang kurang baik, lingkungan yang kurang layak, serta kesehatan yang kurang belum memenuhi kriteria pada umunya.
“Dari keadaan seperti itulah mendorong kami membuat program ini untuk meningkatkan betapa pentingnya hidup sehat dan kebersihan lingkungan di sekitarnya,” kata Sri Ayu Dinda Lestari menambahkan.
Dalam memberdayakan anak-anak di PA ini dilakukan melalui program yang telah disusun Tim PKMM mahasiswa UNAIR ini, memulai memberikan sosialisasi terhadap pemilik dan pengurus panti, serta kepada anak-anak penghuni panti.
Pembelajaran yang disampaikan mengenai kehidupan sehari-hari. Misalnya cara gosok gigi yang baik dan benar, mencuci tangan dengan benar, membersikan lingkungan bersama-sama dengan pengurus panti dan anak-anak penghuni panti.
“Kami juga memberikan pembelajaran melalui menonton video pola hidup sehat dan bagaimana cara menjaga kebersihan di lingkungan sendiri,” tambah Sofie Egita Vermalia, ketua kelompok.
Program tersebut memberikan respon positif bagi pihak panti yang telah membantu anak-anak penghuni panti asuhan dalam meningkatkan bagaimana kesehatan diri sendiri dan lingkungannya.
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/07/03/meningkatkan-pola-hidup-sehat-penghuni-panti-asuhan-millenium-sidoarjo/



Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
1.      Fakutas Kedokteran
3.      Fakultas Hukum
6.      Fakultas Vokasi
8.      Fakultas Keperawatan
9.      Fakultas Farmasi
Cari Artikel terkait Riset Anda : http://repository.unair.ac.id/