Senin, 18 September 2017

Pengukuhan Guru Besar, Rektor: Dosen Harus Lebih Kreatif

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., dalam sambutan pengukuhan guru besar mengatakan, agar para dosen saat ini harus lebih kreatif lagi. Kreatifitas itu bisa dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada mahasiswa maupun kreatif dalam melakukan riset sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi.
“Dalam mengajar, dosen tidak boleh menggunakan metode tahun 70’an untuk mendidik mahasiswa saat ini. Kompetensi kita sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing bangsa. Maka, keatifitas harus terus kita tingkatkan,” terang Rektor UNAIR dihadapan hadirin pengukuhan yang dilangsungkan Sabtu (16/9).
Pernyataan itu terlontar mengingat, salah satu guru besar yang baru dikukuhkan Prof Badri Munir Sukoco dalam orasi ilmiahnya menyebutkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggungjawab besar dalam mencetak creative class. Melalui Creative class ini lah yang memungkinkan sebuah negara memiliki daya saing.
“Creative class akan banyak berperan mengendalikan kehidupan kita. Aplikasi-aplikasi yang memudahkan manusia kini banyak bermunculan. Mulai dari membeli barang, makanan, maupun alat-alat kebutuhan yang lain. Ke depan akan banyak yang sifatnya artifisial. Untuk itu, sebagai dosen harus bisa mencetak SDM yang memiliki kreativitas tinggi,” ucap Nasih.
Maka dari itu, profesor asal Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu mengatakan, ketiga guru besar yang baru dikukuhkan memiliki amanah yang sangat berat. Amanah itu bukan hanya kreatif dalam mencetak mahasiswa menjadi SDM yang unggul, namun juga kreatif dalam melakukan berbagai riset.
“Dengan tambahan guru besar ini semoga memperkuat SDM kita yang kreatif,” ucap Nasih.
Tiga guru besar yang dikukuhkan itu adalah Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., MBA., Ph.D (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Prof. Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, Dra., M.Si (Fakultas Sains dan Teknologi), dan Prof. Dr. Tuti Kusumaningsih, drg., M.Kes (Fakultas Kedokteran Gigi).
Pengukuhan guru besar menambah jumlah profesor yang dimiliki UNAIR, yakni sejumlah 173 guru besar aktif sejak UNAIR menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), dan 465 sejak UNAIR berdiri tahun 1954. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Nuri Hermawan
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/09/19/pengukuhan-guru-besar-rektor-dosen-harus-lebih-kreatif/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
1.      Fakutas Kedokteran
3.      Fakultas Hukum
6.      Fakultas Vokasi
8.      Fakultas Keperawatan
9.      Fakultas Farmasi

FKH Gelar Kuliah Umum Internasional

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) kedatangan tamu spesial Selasa pagi (19/9). Mereka adalah Dr Jeffrey C. Mariner DVM, PhD. dan Prof. Dr. Jeffrey K. Griffiths, MD., MPH&TM dari Tuft University, Amerika Serikat. Keduanya memberikan kuliah tamu di ruang Tandjung Adiwinata, lantai 2, gedung dekanat.
Dr. Mariner adalah seorang Veterinary Epidemiologist yang pernah melakukan penelitian di Indonesia. Khususnya, di pulau Jawa. Tak mengherankan, kuliahnya kali ini mengambil tema Mass Vaccination and the Incidence of Highly Pathogenic Avian Influenza on Java Island: A One Health Perspective.
Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan banyak hal tentang flu burung. Salah satunya, soal tantangan yang mutlak dihadapi di Indonesia. Antara lain, soal kepadatan penduduk dan kecepatan regenerasi dari unggas yang hidup di lingkungan masyarakat.
“Nah, tugas para peneliti adalah menghadapi tantangan dan memberikan solusi kongkret,” urai lelaki yang menamatkan program doktoral di University of Guelph tersebut.
Setelah presentasi dari Mariner, giliran Prof Griffith yang memberikan penjelasan pada para mahasiswa dan dosen. Guru Besar di bidang Public Health and Community Medicine ini berbicara tentang Water and Environment Spread of Antimicrobial Resistense.
Dia menggarisbawahi tentang pentingnya memahami perkembangan teknologi untuk menyelesaikan persoalan kesehatan yang berasal dari air dan lingkungan sekitar. Semakin hari, problem di sekitar makin kompleks. Sehingga, butuh pengetahuan dari beberapa aspek untuk menghadapinya.
Di tempat yang sama, Faculty Ambassador Muchammad Yunus PhD menuturkan, event ini sengaha digelar untuk memberikan wawasan global pada sivitas akademika. “Mari kita belajar dari berbagai sumber. Kuliah umum ini adalah kesempatan emas untuk mengisi pengetahuan kita tentang Veterinary Epidemiologi dan Enviromental Epidemiologi,” ungkapnya.
Kuliah umum ini diselenggarakan atas kerjasama antara UNAIR dan Indohun atau Indonesia One Health University Network. Saat ini, UNAIR memiliki One Health Collaboration Center (OHCC) yang diberi nama Airlangga Disease Prevention and Research Center (ADPRC). Selain UNAIR, kampus lain yang memiliki OHCC adalah UGM dan Udayana.
ADPRC ini bakal fokus untuk membantu pemerintah untuk menangani persoalan penyakit infeksi, khususnya zoonosis. Berdirinya ADPRC, didukung penuh oleh Indohun. Tak heran, ke depan, akan banyak event atau kegiatan ADPRC yang terkoneksi dengan Indohun. ADPRC akan fokus pada kajian bidang kesehatan manusia, kedokteran hewan, kesehatan lingkungan, dan menciptakan produk tepat guna. (*)
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/09/19/fkh-gelar-kuliah-umum-internasional/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
1.      Fakutas Kedokteran
3.      Fakultas Hukum
6.      Fakultas Vokasi
8.      Fakultas Keperawatan
9.      Fakultas Farmasi

Tantangan Universitas Menghadapi Revolusi Industri 4.0

UNAIR NEWS – Apakah universitas masih relevan dan bisa bertahan hidup ketika dunia terus berubah? Inilah pertanyaan yang mendasari fokus penelitian Badri Munir Sukoco dan mengantarkannya menjadi profesor termuda yang lahir dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.
Laki-laki kelahiran Lumajang, 11 September 1978 itu, dikukuhkan sebagai profesor bidang Manajemen dengan membawakan orasi ilmiah berjudul “Orkestrasi Kapabilitas Dinamis untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”.
Tahun 2013 lalu, perusahaan Google mengumumkan bahwa tidak perlu menggunakan ijazah untuk masuk sebagai karyawan Google. Ernst & Young dan beberapa perusahaan lainnya pun menerapkan hal serupa.
Keadaan ini diperkuat dengan kenyataan di lapangan mengenai besaran mahasiswa yang lulus lama. Belum lagi, usai lulus mereka masih susah untuk mencari lapangan kerja. Lantas, masihkah universitas relevan untuk turut andil dalam meningkatkan daya saing bangsa?
“Diakui atau tidak, universitas adalah lembaga yang bisa mencetak creative class. Creative class lah yang menentukan sebuah negara punya daya saing,” ucap Prof Badri.
Berdasarkan riset yang ia lakukan, saat ini hanya terdapat 7,93 persen  creative class di Indonesia. Sementara sesuai prediksi Pricewaterhouse Coopers, Indonesia akan menjadi lima besar negara dengan ekonomi terbaik di dunia jika creative class mencapai 20 persen.
“Creative class dibentuk oleh universitas. Sedangkan universitas kalau ingin menciptakan creative class harus bisa memprediksi kira-kira pekerjaan apa yang akan eksis dalam tahun-tahun ke depan,” ungkap Prof Badri.
Jika melakukan kilas balik pada lima hingga sepuluh tahun lalu, pekerjaan seperti driver online, pengantar makanan online, pengembang aplikasi android, tidak pernah ada sebelumnya. Sebaliknya, pekerjaan-pekerjaan yang dapat digantikan mesin semakin bermunculan.
“Sebentar lagi sepertinya otomasi-otomasi ini akan berlangsung. Profesi seperti akuntan, lawyer (pengacara), dokter, akan banyak pekerjaan yang tereduksi,” imbuh Prof Badri.
Lalu, apa yang harus dilakukan universitas untuk meningkatkan creative class hingga mencapai 20 persen?
“Universitas harus melakukan reorientasi strategi. Selama ini, apa yang dibutuhkan pasar, ya, universitas yang menyediakan. Harusnya universitas juga memproyeksi pekerjaan apa yang kira-kira sepuluh tahun lagi akan banyak diburu,” ujar dosen berprestasi I UNAIR tahun 2015 itu.
Langkah selanjutnya menurut Prof Badri, terdapat tiga proses yang harus dilakukan oleh universitas untuk mengadaptasikan kapabilitasnya melalui sensing, seizing, dan reconfiguring.
“Melalui sensing, universitas harus secara konstan melakukan scanning, mencari, dan mengeksplorasi perkembangan teknologi dan perubahan di pasar, baik lokal maupun distant (industri dan global),” ungkapnya.
Kedua, terkait dengan memperluas peluang (seize opportunities), universitas dapat berkoordinasi dengan lembaga beasiswa seperti Lembaga Penyandang Dana Pendidikan untuk mengirim generasi muda Indonesia ke luar negeri untuk belajar dengan universitas-universitas terbaik dunia.
“Menempatkan calon-calon dosen baru pada berbagai pusat perkembangan teknologi yang menjadi pioner perkembangan revolusi industri adalah sebuah keharusan,” ucapnya.
Proses ketiga yang harus dilakukan adalah reconfiguring the business enterprise’s intangible and tangible assets.
“Melakukan rekonfigurasi fakultas atau program studi yang ditawarkan agar sesuai dengan perkembangan zaman seperti arahan Presiden Jokowi baru-baru ini,” tambahnya.
“Tentunya, perubahan universitas untuk beradaptasi terkait Revolusi Industri 4.0 tidak bisa berjalan sendiri. Kebijakan pemerintah yang relevan dengan Revolusi Industri 4.0 dengan agility yang tinggi adalah sebuah keharusan agar tidak ketinggalan kereta,” tambahnya. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/09/16/tantangan-universitas-menghadapi-revolusi-industri-4-0/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
  1. Fakutas Kedokteran
  2. Fakultas Kedokteran Gigi 
  3. Fakultas Hukum
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
  5. Fakultas Ilmu dan Budaya
  6. Fakultas Vokasi
  7. Fakultas Sains dan Teknologi
  8. Fakultas Keperawatan
  9. Fakultas Farmasi
  10. Fakultas Perikanan dan Kelautan
  11. Fakultas Kedokteran Hewan
  12. Fakultas Psikologi
  13. Fakultas Kesehatan Masyarakat
  14. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
  15. Fakultas Pasca Sarjana

UKM Bridge Giat Torehkan Prestasi

UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) terus menorehkan prestasi. Salah satunya, UKM Bridge yang pada gelaran Rektor Cup IV di Universitas Brawijaya (UB), 23-24 April 2017 lalu, membawa predikat cukup memuaskan. Dalam event tingkat nasional itu, tim UKM Bridge sukses menjadi terbaik kedua. Selain dari UNAIR dan UB, peserta kompetisi ini juga berasal dari Universitas Jember, Universitas Gadjah Mada, STIS Jakarta, ITS Surabaya, dan lain sebagainya.
Persiapan yang matang menjadi kunci utama dari keberhasilan ini. Selama ini, UKM Bridge rutin melaksanakan latihan seminggu dua kali, Rabu dan Kamis. Saat sudah mendekati lomba, barulah diadakan pendalaman demi pendalaman.
Tiap anggota selalu melakukan sharing bersama. Termasuk, dengan para senior atau alumni. Yang menarik, mereka juga kerap mengundang kampus lain untuk latihan uji coba. Juga, terus mengikuti aneka lomba sebagai modal menambah jam terbang dan pengalaman.
“Harapan kami, semoga semua UKM di UNAIR semakin berprestasi. Termasuk, UKM Bridge, “ kata Bisma Brata Atmaja, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2014, penasehat kepengurusan UKM Bridge. “Mudah-mudahan UKM bisa menjadi salah satu faktor yang mendukung UNAIR meraih predikat 500 terbaik, World Class University,” tambah pria yang juga ketua Forum Komunikasi (Forkom) UKM tersebut. (*)
Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/04/27/ukm-bridge-giat-torehkan-prestasi/
Daftar Fakultas Di Universitas Airlangga
  1. Fakutas Kedokteran
  2. Fakultas Kedokteran Gigi 
  3. Fakultas Hukum
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
  5. Fakultas Ilmu dan Budaya
  6. Fakultas Vokasi
  7. Fakultas Sains dan Teknologi
  8. Fakultas Keperawatan
  9. Fakultas Farmasi
  10. Fakultas Perikanan dan Kelautan
  11. Fakultas Kedokteran Hewan
  12. Fakultas Psikologi
  13. Fakultas Kesehatan Masyarakat
  14. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
  15. Fakultas Pasca Sarjana